Social Icons

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Rabu, 25 Juli 2012

PENERAPAN MODEL CONNECTING, ORGANIZING, REFLECTING, EXTENDING (CORE) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA SMP


Anisa Wijayanti. (2012). Jurusan Pendidikan Matematika, FPMIPA
Universitas Pendidikan Indonesia
ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis siswa SMP di Indonesia. Padahal, kemampuan ini sangat penting bagi setiap individu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan masalah matematis siswa setelah belajar dengan model Connecting, Organizing, Reflecting, Extending (CORE). Metode penelitian adalah metode kuasi eksperimen. Populasinya adalah seluruh siswa salah satu SMP Negeri di Bandung kelas VIII tahun ajaran 2011/2012. Teknik sampling menggunakan purposif sampling untuk memilih kelas eksperimen, dan kelas kontrol. Kelas eksperimen belajar dengan model CORE, kelas kontrol belajar dengan model konvensional. Analisis data dilakukan dengan membandingkan peningkatan kemampuan pemecahan masalah kelas eksperimen dan kelas kontrol melalui uji statistik dan melihat respon siswa melalui angket, lembar observasi dan wawancara. Hasil penelitian menyatakan bahwa  model CORE dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, nilai rata-rata kelas eksperimen lebih baik dari kelas kontrol dan respon siswa terhadap pembelajaran dengan model CORE positif.
Kata kunci: Pemecahan Masalah Matematis Siswa, Model  CORE (Connecting, Organizing, Reflecting, Extending)

A. PENDAHULUAN


“Bidang studi matematika secara garis besar memiliki dua arah pengembangan yaitu untuk memenuhi kebutuhan masa kini dan masa yang akan datang” (Subakti, 2009: 1). Berdasarkan pendapat Subakti ini maka ada dua visi dalam pembelajaran matematika. Visi pertama mengarahkan pembelajaran matematika untuk pemahaman konsep-konsep yang kemudian diperlukan untuk menyelesaikan masalah matematika dan ilmu pengetahuan yang lainnya, sedangkan visi kedua mengarahkan pada masa depan yang lebih luas yaitu matematika memberikan kemampuan pemecahan masalah, sistematis, kritis, cermat, bersikap objektif dan terbuka sehingga diharapkan kemampuan ini akan berpengaruh positif bagi masa depan siswa.
Dalam belajar matematika pada dasarnya seseorang tidak terlepas dari pemecahan masalah karena berhasil atau tidaknya seseorang dalam matematika ditandai adanya kemampuan pemecahan masalah yang dihadapinya (Fadillah, 2008). Pemecahan masalah itu penting bukan saja bagi kehidupan siswa dikemudian hari ketika akan mendalami  matematika, tetapi juga mereka yang akan menerapkannya baik dalam bidang studi lain maupun dalam kehidupan sehari-hari  (Ruseffendi, 1991)
Ditengah pentingnya kemampuan pemecahan masalah, ditemukan fakta bahwa kemampuan pemecahan masalah yang dimiliki oleh siswa Indonesia tergolong masih rendah. Hal ini berdasarkan hasil tes Trends International Mathematics and Science Study (TIMSS) pada tahun 2007 yang menunjukkan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi (high order thinking) siswa Indonesia kurang dari satu persen di bawah rata-rata internasional yaitu sebesar dua persen. Sedangkan siswa di negara Korea Selatan, Taiwan, dan Singapura di atas 40 persen (Rizali, 2008). Fakta yang serupa didapatkan berdasarkan hasil tes PISA yang menyatakan  bahwa siswa Indonesia yang memiliki kemampuan pemecahan masalah yang baik tidak lebih dari 10%, kemampuan pemecahan masalah siswa Indonesia menduduki peringkat ke 63 dari 65 negara (PISA, 2009).
Rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematika siswa akan berdampak pada rendahnya prestasi siswa disekolah. Kemampuan pemecahan masalah dapat diperoleh bila dalam proses pembelajaran terjadi komunikasi antara guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa yang merangsang terciptanya partisipasi siswa (Subakti, 2009). Artinya, salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah yaitu dengan memilih model pembelajaran yang lebih menekankan keaktifan pada diri siswa. Model CORE adalah sebuah model yang mencakup empat proses yaitu Connecting (menghubungkan informasi lama dengan informasi baru), Organizing (mengorganisasikan pengetahuan), Reflecting (menjelaskan kembali informasi yang telah diperoleh), dan  Extending (memperluas pengetahuan) (Tresnawati, 2006). Tahapan pembelajaran dengan model CORE menawarkan sebuah proses pembelajaran yang memberi ruang bagi siswa untuk berpendapat, mencari solusi serta membangun pengetahuannya sendiri. Hal ini memberikan pengalaman yang berbeda sehingga diharapkan bisa meningkatkan kemampuan pemecahan masalah pada diri siswa.
Berdasarkan uraian di atas penulis berusaha mengkaji mengenai penerapan model CORE untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa SMP. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.        Bagaimanakah kemampuan pemecahan masalah matematis siswa setelah mendapat pembelajaran dengan model CORE?
2.        Apakah kemampuan pemecahan masalah matematis siswa setelah mengikuti pembelajaran matematika dengan model Connecting, Organizing, Reflecting, Extending (CORE) meningkat bila dibandingkan dengan pembelajaran dengan model konvensional?
3.         Bagaimana respon siswa terhadap pembelajaran dengan model Connecting, Organizing, Reflecting, Extending (CORE) dibandingkan dengan pembelajaran dengan model konvensional?
B. Kajian Pustaka
1.    Pemecahan Masalah
Untuk memberi pengertian terhadap pemecahan masalah, perlu dijelaskan terlebih dahulu mengenai pengertian masalah. Newell & Simon (1971) mengungkapkan bahwa masalah adalah suatu situasi di mana individu ingin melakukan sesuatu tetapi tidak mengetahui cara dan tindakan yang diperlukan untuk memperoleh apa yang ia inginkan. NCTM menetapkan memecahkan masalah sebagai suatu tujuan dan pendekatan. Memecahkan masalah bermakna menjawab suatu pertanyaan dimana metode untuk mencari solusi dari pertanyaan tersebut tidak dikenal terlebih dahulu. Untuk menemukan suatu solusi, siswa harus menggunakan hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya dan melalui proses dimana mereka akan mengembangkan pemahaman-pemahaman matematika baru. Memecahkan masalah bukanlah hanya suatu tujuan dari belajar matematika tetapi juga memiliki suatu makna yang lebih utama dari mengerjakannya (NCTM, 2000).
Hudojo (Arniati dan Dewi, 2010) mengungkapkan bahwa syarat suatu masalah bagi siswa adalah sebagai berikut.
a.       Pertanyaan yang dihadapkan kepada seorang siswa haruslah dapat dimengerti oleh siswa tersebut, namun pertanyaan itu harus merupakan tantangan baginya untuk menjawabnya.
b.      Pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab dengan prosedur rutin yang diketahui siswa.
 Polya (1945) menyatakan bahwa terdapat dua macam masalah dalam matematika, yaitu:
a.       Masalah untuk menemukan mencakup masalah teoritis, praktis, abstrak, konkret dan teka teki. Sebelum menyelesaikan masalah yang termasuk masalah menemukan terlebih dahulu harus dicari variabel masalahnya kemudian mengkonstruksi semua jenis objek yang digunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Landasan utama untuk dapat menyelesaikan masalah tipe ini antara lain : (1) Apakah yang akan dicari? (2) Apa saja data yang diketahui? (3) Bagaimanakah syaratnya?. Masalah untuk menemukan ini lebih penting diterapkan dalam matematika elementer.
b.  Masalah untuk membuktikan diantaranya adalah persoalan yang mengharuskan peserta didik untuk menunjukan bahwa suatu pernyataan itu benar atau salah atau tidak kedua-duanya. Bagian utama dari masalah jenis ini adalah hipotesis dan konklusi dari suatu teorema yang harus dibuktikan kebenarannya, masalah untuk membuktikan lebih penting dalam matematika lanjut.
Pemecahan masalah sebagaimana yang diungkapkan oleh Polya (1945) merupakan heuristik (cara untuk menemukan) yang berarti mempelajari metode atau aturan dari penemuan yang mencakup discovery dan invention. Sementara itu, kemampuan pemecahan masalah matematis adalah kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika dengan berpedoman pada proses penemuan jawaban yang menghadirkan langkah-langkah Polya (1945:1). Menurut Polya (1945), untuk memecahkan suatu masalah ada empat langkah yang dapat dilakukan, yakni:
a.    Memahami masalah, yaitu menentukan (mengidentifikasi) apa (data) yang diketahui, apa yang ditanyakan (tidak diketahui), syaratsyarat apa yang diperlukan, apa syaratsyarat bisa dipenuhi, memeriksa apakah syaratsyarat yang diketahui mencukupi untuk mencari yang tidak diketahui, dan menyatakan kembali masalah asli dalam bentuk yang lebih operasional (dapat diselesaikan).
b.   Merencanakan pemecahannya, yaitu memeriksa apakah sudah pernah melihat sebelumnya atau melihat masalah yang sama dalam bentuk berbeda, memeriksa apakah sudah mengetahui soal lain yang terkait, mengaitkan dengan teorema yang mungkin berguna, memperhatikan yang tidak diketahui dari soal dan mencoba memikirkan soal yang sudah dikenal yang mempunyai unsur yang tidak diketahui yang sama.
c.    Melaksanakan rencana, yaitu melaksanakan rencana penyelesaian, mengecek kebenaran setiap langkah dan membuktikan bahwa langkah benar.
d.   Memeriksa kembali, yaitu meneliti kembali hasil yang telah dicapai, mengecek hasilnya, mengecek argumennya, mencari hasil itu dengan cara lain, dan menggunakan hasil atau metode yang ditemukan untuk menyelesaikan masalah lain.
Indikator pemecahan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagaimana dikutip dari Sumarmo (2010: 5) sebagai berikut.
a.    Mengidentifikasi kecukupan data untuk memecahkan masalah.
b.    Membuat model matematis dari situasi atau masalah sehari-hari.
c.    Memilih dan menerapkan strategi untuk menyelesaikan masalah matematika atau diluar matematika.
d.   Menjelaskan atau menginterpretasikan hasil sesuai permasalahan serta memeriksa kebenaran hasil atau jawaban.
e.    Menerapkan matematika secara bermakna.
2. Model CORE
Terkait dengan pendidikan dalam konteks pembelajaran maka guru akan dihadapkan dengan siswa. Untuk membentuk siswa yang memiliki pengetahuan luas dan menyeluruh guru harus menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan, selain itu guru harus menerapkan strategi atau model pembelajaran yang bisa membantu siswa untuk memetakan materi dalam memorinya dengan membuat keterkaitan antara materi dan menarik kesimpulan pada setiap materi yang diberikan. Hal ini sejalan dengan pendapat Jacob (2005) yang menyatakan bahwa pengetahuan siswa akan semakin luas dan terpetakan dengan baik dalam memorinya apabila ditunjang dengan lingkungan sosial yang baik, selain itu guru harus membantu siswa merefleksikan apa yang mereka pelajari. Selain partisipasi aktif dan kemampuan merefleksikan apa yang telah dipelajari dalam proses pembelajaran dibutuhkan pula kemampuan untuk mengubungkan pola-pola dan memperluas pengetahuan.
Aktivitas yang membuat siswa berpartisipasi aktif dan merefleksikan apa yang mereka pelajari bisa dilakukan dalam bentuk diskusi. Setyowati (2011)  menyatakan bahwa “Diskusi adalah suatu kegiatan yang dihadiri dua orang atau lebih untuk berbagi ide dan pengalaman serta memperluas pengetahuan.” Metode diskusi adalah suatu cara mengajar dengan mengaitkan topik atau  masalah yang memicu para peserta diskusi untuk berusaha mencapai atau memperoleh suatu keputusan atau pendapat yang disepakati bersama (Nursidik, 2008).
Calfee et al. (Jacob, 2005: 13) mengusulkan suatu model pembelajaran yang menggunakan metode diskusi untuk dapat mempengaruhi perkembangan pengetahuan dengan melibatkan siswa yang disebut model CORE (Connecting, Organizing, Reflecting, Exending). Harmsen (2005) menyatakan bahwa elemen-elemen tersebut digunakan untuk menghubungkan informasi lama dengan informasi baru, mengorganisasikan sejumlah materi yang bervariasi, merefleksikan segala sesuatu yang siswa pelajari dan mengembangkan lingkungan belajar.
C. Metodologi
1. Metode dan Desain Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuasi eksperimen. Desain eksperimen yang dilakukan dalam penelitian ini adalah desain kelompok kontrol non-ekivalen seperti yang digambarkan dalam diagram berikut ini:
      Kelas Eksperimen             :           0  X   0
      Kelas Kontrol                    :           0        0
      Keterangan:
      0:   Adanya pretes/ postes
      X: Pembelajaran matematika melalui model CORE
2. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa di salah satu SMP Negeri di Bandung kelas VIII tahun ajaran 2011/2012 semester genap. Sekolah tersebut merupakan sekolah cluster dua yang penerimaan siswa barunya diseleksi berdasarkan nilai Ujian Akhir Nasional (UAN), nilai Ujian Akhir Sekolah (UAS) dan nilai rapot. Sampel penelitian adalah dua kelas yang dipilih berdasarkan teknik purposif sampling, kedua kelas tersebut dipilih berdasarkan pertimbangan kepala sekolah dan guru untuk menentukan kelas mana yang menjadi kelas eksperimen, dan kelas kontrol. Kelas eksperimen adalah kelas yang mendapatkan pembelajaran matematika dengan model Connecting, Organizing, Reflecting Extending (CORE), sedangkan kelas kontrol adalah kelas yang mendapatkan pembelajaran dengan model konvensional.
3. Instrumen
a. Instrumen Tes
Untuk melihat peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis, sebelum dan sesudah penelitian dilakukan pretes dan postes. Tes berupa soal-soal uraian yang memuat indikator sesuai standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan indikator kompetensi kemampuan pemecahan masalah matematis.
b.   Lembar Observasi
Observasi dilakukan untuk untuk mengukur kesesuaian proses pembelajaran dengan RPP yang telah dibuat, serta kesesuaian proses pembelajaran dengan komponen-komponen model CORE yang harus diterapkan selama proses pembelajaran berlangsung. Adapun yang bertindak sebagai observer adalah seseorang yang memahami alur pembelajaran dengan model CORE.
c.    Angket Skala Sikap
Ruseffendi (Idaningtias, 2008) menyatakan bahwa ”Skala sikap adalah skala yang dipergunakan untuk mengukur sikap seseorang atau skala sikap dapat pula diartikan sebagai skala yang berkenaan dengan apa yang seseorang percayai, hayati, dan rasakan”.
d.   Wawancara
Wawancara dilakukan terhadap siswa di kelas eksperimen dengan kasus-kasus tertentu yakni siswa yang memiliki nilai tertinggi, siswa yang memiliki nilai terendah, siswa yang memiliki peningkatan nilai terendah dan siswa yang memiliki respon yang positif serta aktif selama proses pembelajaran dengan model CORE akan tetapi memperoleh nilai yang kurang memuaskan saat tes.
D. Hasil Penelitian
            Hasil penelitian yang diperoleh dari penelitian ini adalah mengenai peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mendapat pembelajaran dengan model CORE, membandingkan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mendapat pembelajaran dengan model CORE dan model konvensional, dan respon siswa terhadap pembelajaran dengan model CORE.
Analisis hasil penelitian mengenai peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dilakukan dengan menghitung gain ternormalisasi data pretes dan postes kelas eksperimen. Rata-rata indeks gain kelas eksperimen adalah 0,3 artinya kelas eksperimen mengalami peningkatan yang rendah. Adapun hasil tafsiran indeks gainnya disajikan dalam diagram berikut.
Berdasarkan diagram di atas didapatkan fakta bahwa 16% siswa mengalami peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis yang tinggi, 31% siswa mengalami peningkatan kemampuan pemecahan masalah sedang dan 53% siswa mengalami peningkatan kemampuan pemecahan masalah yang rendah. Fakta ini menunjukkan bahwa model CORE tidak berhasil meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa secara signifikan.  Apabila ditinjau dari proses pembelajaran faktor yang paling mendasar yang menyebabkan peningktan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa tidak signifikan yakni motivasi belajar siswa yang kurang. Siswa jarang mempelajari kembali soal-soal yang telah diberikan selama proses pembelajaran. Hal ini terungkap melalui wawancara yang dilakukan pada siswa yang mendapatkan nilai yang rendah, siswa yang mendapatkan nilai yang rendah menyatakan bahwa siswa tersebut tidak pernah mempelajari kembali soal-soal yang telah didapatkan selama proses pembelajaran dan tidak belajar dengan sungguh-sungguh  pada waktu menjelang tes. Motivasi belajar siswa yang rendah juga membuat siswa kurang berkonsentrasi selama proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) berlangsung.
Analisis hasil penelitian dilakukan melalui uji statistik untuk mengetahui peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang menyatakan bahwa siswa yang mendapat pembelajaran dengan model CORE mengalami peningkatan kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik bila dibandingkan dengan siswa yang berlajar dengan model konvensional. Adapun hasil pretes postes kelas kontrol dan kelas eksperimen disajikan dalam diagram berikut.
Sementara itu, pengolahan data hasil angket dilakukan dengan menggunakan Skala Likert disajikan dalam diagram berikut.
Berdasarkan hasil pengolahan data ternyata sebanyak 32 orang siswa atau 97% siswa memberikan respon positif dan hanya terdapat satu orang siswa atau 3% yang memberikan respon negatif.
E. Pembahasan
1. Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa Kelas Eksperimen
Peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang belajar dengan model CORE masih tergolong kurang memuaskan. Hal ini terlihat dari rata-rata indeks gain siswa kelas eksperimen yakni 0,3 artinya peningkatan kemampuan pemecahan masalah tergolong rendah. Apabila dikaji lebih mendalam, berdasarkan wawancara ditemukan fakta bahwa terdapat faktor-faktor secara intrinsik dalam diri siswa yang berpengaruh pada peningkatan kemampuan pemecahan masalahnya. Hal yang paling berpengaruh adalah motivasi dalam diri siswa yang masih sangat rendah yang membuat siswa malas berlatih soal-soal pemecahan masalah. Motivasi yang rendah juga membuat siswa tidak belajar dengan sungguh-sungguh saat menghadapi tes.
2. Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa Kelas Eksperimen dan Kontrol
Peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa antara yang belajar dengan model CORE dan siswa yang belajar dengan model konvensional cukup signifikan. Berdasarkan rata-rata skor sebelum dilakukan penelitian diketahui bahwa nilai rata-rata kelas kontrol yakni 17,32 sedangkan nilai rata-rata kelas eksperimen adalah 18,25. Setelah dilakukan uji statistik terhadap data nilai pretes dan postes ternyata didapatkan kesimpulan bahwa nilai rata-rata kelas kontrol dan kelas eksperimen sama. Setelah mendapatkan pembelajaran dengan model CORE ternyata nilai rata-rata kelas kontrol berbeda bila dibandingkan dengan kelas eksperimen yakni kelas kontrol 30,89 dan kelas eksperimen 42,39 .Hasil uji statistik menyatakan bahwa nilai rata-rata kelas yang mendapatkan pembelajaran dengan model CORE lebih baik bila dibandingkan dengan siswa yang belajar dengan model konvensional.
Peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa di kelas eksperimen meningkat lebih baik daripada kelas kontrol karena pembelajaran dengan model CORE yang sintaksnya terdiri dari Connecting, Organizing, Reflecting dan Ekstending dan berbasis pada keaktifan siswa membuat konsentrasi belajar siswa lebih fokus pada materi yang dipelajarinya. Proses diskusi dalam model CORE membuat siswa bisa belajar dengan lebih nyaman karena siswa bisa menuangkan ide-ide pemecahan masalahnya sendiri dan belajar mengungkapkan ide-ide tersebut sehingga bisa diterima oleh orang lain. Siswa yang kesulitan memahami materi juga bisa bertanya mengenai kesulitannya terhadap teman sebaya. Fakta ini terungkap berdasarkan wawancara dan angket yang telah diisi oleh siswa.
Berdasarkan sintaksnya, model CORE sangat erat kaitannya dengan langkah-langkah Polya (1945) dalam pemecahan masalah matematika yakni: (1) memahami masalah, (2) merencanakan pemecahannya, (3) melaksanakan rencana, (4) memeriksa kembali. Proses Connecting erat kaitannya dengan langkah pemecahan masalah Polya yang pertama yakni memahami masalah. Connecting yang terjadi pada tahap apersepsi dan saat siswa mencoba memahami masalah serta menyelidiki kecukupan data mempermudah siswa untuk menyelesaikan persoalan yang diberikan, proses ini juga membuat siswa memaknai keterkaitan materi lebih mendalam sehingga siswa mampu menarik kesimpulan dan memahami materi yang diberikan dalam setiap pertemuan.  Proses Organizing erat kaitannya dengan perencanaan dan pelaksanaan rencana pemecahan masalah. Proses Organizing dalam diskusi kelompok dan diskusi kelas mampu membuat siswa terbiasa menyampaikan ide-ide atau pendapat mengenai strategi pemecahan masalah yang ada di pikirannya dan menerima pendapat orang lain, proses ini membuat siswa berpikir lebih terbuka. Reflecting erat kaitannya dengan memeriksa kembali. Proses Reflecting dimana siswa diberi kesempatan untuk mengkaji ulang strategi pemecahan masalah yang telah dilakukan, memahami materi yang telah didapatkan dalam proses diskusi, mempelajari strategi orang lain dan memikirkan strategi yang tepat membuat siswa mampu menyadari kekeliruan saat mengerjakan soal dan berusaha memperbaikinya. Proses Extending yang merupakan  tahap terakhir dalam pembelajaran menggunakan model CORE sangat dipengaruhi oleh proses-proses sebelumnya. Angket skala sikap menunjukkan bahwa siswa yang menjalani tahap Connecting Organizing dan Reflecting dengan baik terbukti merasa yakin dan percaya diri saat mengerjakan soal yang diberikan setelah memahami materi dalam diskusi (soal individual). Berdasarkan penjelasan di atas terbukti bahwa proses Connecting, Organizing dan Reflecting sangat berpengaruh untuk membantu siswa menyelesaikan soal-soal pemecahan masalah.
3. Respon Siswa Terhadap Pembelajaran dengan Model CORE
            Respon siswa terhadap pembelajaran CORE positif, yakni sebanyak 97% siswa menyatakan bahwa mereka lebih merasa nyaman belajar dengan model CORE dibandingkan belajar dengan model konvensional. Berdasarkan hasil angket dan wawancara terungkap fakta bahwa pembelajaran dengan  model CORE melalui keempat sintaksnya yakni Connecting, Organizing, Reflecting dan Extending mampu membuat siswa berpikir positif mengenai matematika dan soal-soal pemecahan masalah. Model CORE juga mengurangi rasa jenuh terhadap pelajaran matematika.  Namun sayangnya, model CORE tidak mampu menumbuhkan motivasi pada diri siswa secara signifikan sehingga siswa seringkali malas mengerjakan tugas dan mengkaji ulang materi yang telah didapatkan di rumah. Motivasi belajar siswa  hanya timbul di sekolah saat pembelajaran berlangsung.
Selain motivasi yang rendah, sempitnya waktu pembelajaran di kelas terkadang membuat kesulitan-kesulitan belajar siswa di sekolah tidak sempat mendapatkan jawaban secara utuh. Siswa malas bertanya ketika mereka mengalami kesulitan dan membawa kesulitan itu ke rumah hingga pada saat materi berikutnya diberikan sehingga kesulitan dan kebingungan siswa semakin tertumpuk. Untuk meningkatkan motivasi siswa dan mengatasi kesulitan belajar siswa secara signifikan perlu diadakan penelitian dan pengkajian terhadap motivasi siswa sebelum pembelajaran dengan model CORE dilakukan.
F. Kesimpulan
            Berdasarkan analisis dan pembahasan hasil penelitian pada salah satu SMP Negeri di kota Bandung yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya, diperoleh kesimpulan sebagai berikut. (1) Siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan model CORE terbukti mengalami peningkatan kemampuan pemecahan masalah. (2) Peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mendapat pembelajaran dengan model CORE lebih baik daripada siswa yang mendapat pembelajaran dengan model konvensional. (3) Siswa memberi respon positif terhadap pembelajaran matematika dengan model CORE.


REFERENSI


Arniati dan Dewi, A.Y. (2010). Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika. Tesis SPS Universitas Negeri Padang: tidak Diterbitkan. [Online] Tersedia: http://rian.hilman.web.id/?p=52 [2 November 2011]

Fadillah, S. (2008). Menumbuhkembangkan Kemampuan Pemecahan Masalah
dan Representasi Matematika Melalui Pembelajaran Open Ended.
[Online]. Tersedia: http://fadillahatick.blogspot.com/ [20 Oktober 2011]

Harmsen, D. (2005). Journal Critique#2. [Online]. Tersedia :www.\\tsclient\A\Daniel Harmsen.html [9 Maret 2011]

Jacob, C. (2005). Pengembangan Model ‘CORE’ dalam Pembelajaran Logika dengan Pendekatan Reciprocal Teaching’ bagi siswa SMA Negeri 9 Bandung dan SMA Negeri 1 Lembang (Laporan Piloting). Bandung: FPMIPA UPI

NCTM. (2000). Principles and Standars for School Mathematics. [Online]. Tersedia: www.nctm.org [10 April 2011]

Newell, A. & Simon, H. (1971). Human Problem Solving. [Online]. Tersedia: http://www.cog.brown.edu/courses/cg195/pdf_files/fall07/Simon and Newell (1971).pdf [20 November 2011]

Nursidik, Y. (2008). Metode Diskusi Pembelajaran. [Online]. Tersedia: http://gapurapangarti.blogspot.com/2008/05/metode-diskusi-pembelajaran.html [18 Mei 2010]

OECD, (2010), PISA 2009 at Glance. OECD Publishing. [Online]. Tersedia: www.oecd.org/dataoecd/31/28/46660259.pdf. [6 Juni 2012]
Polya, G. (1945). How to solve it: a new aspect of mathematics method (2nd ed) Princenton, New Jersey : Princenton University Press.
Rizali, A. (2008). Buta Matematika dan Ujian Nasional. [Online]. Tersedia: suaraguru.wordpress.com [18 Maret 2011].

Ruseffendi, E.T. (1991). Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya   Dalam Pengajaran Matematika Untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito

Setyowati, N. (2011). Strategi Pembelajaran Aktif di Perguruan Tinggi. [Online]. Tersedia: http://www.nanik.al-unib.net/2011/02/strategi-pembelajaran-aktif-di-perguruan-tinggi/  [18 Mei 2010]

Subakti, J. (2009). Meningkatkan Kemampuan Penalaran dan Pemecahan Masalah Matematika Siswa SMU Melalui Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah. Tesis SPS UPI : tidak diterbitkan.
Sumarmo, U. (2010). Berpikir Disposisi Matematik: Apa, Mengapa dan Bagaimana Dikembangkan pada Peserta Didik. FPMIPA UPI: tidak diterbitkan.

Tresnawati, Y. (2006). Penerapan Model “CORE” dengan Pendekatan Keterampilan Metakognitif pada Pembelajaran Matematika untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa  SMA. Skripsi UPI Bandung: tidak diterbitkan.


3 komentar:

  1. asslakum.. maaf kak.. punya buku tentang model pembelajaran core???

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  3. ass, kakk saya mau info tentang buku core???

    BalasHapus